-->

Gedung Lawang Sewu, Sejarah Kereta Api Indonesia

Lawang sewu atau dalam bahasa Indonesia seribu pintu, adalah salah satu tempat bersejarah di Semarang. Sebagian dari kita mungkin mengenalnya karena keangkerannya dan sudah beberapa kali diliput oleh TV khususnya segmen paranormal, bahkan pada salah satu episode diceritakan bahwa peserta uji nyali meninggal tak lama setelah melakukan uji nyali disana. Belakangan kami cari tahu ternyata menurut guide yang ada disana, bahwa orang tersebut masih hidup dan ada disekitar lawang sewu.

Masyarakat Semarang menyebutnya dengan lawang sewu, karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Pada kenyataannya, yang dimaksud adalah bukan pintu, melainkan jendela besar, yang menyerupai pintu (lawang), dan jumlahnya tidak mencapai seribu, melainkan hanya  429 buah saja.
  
 


Sejarah berdirinya lawang sewu
Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Pembangunanya dimulai tahun 1904 dan selesai ditahun 1907,  Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).

Bangunan ini dicanangkan oleh NIS (kantor kereta api Belanda) karena perkembangan perkereta apian saat itu cukup pesat. Saat itu NIS berkantor di Stasiun Kereta Api Semarang Gudang, kondisinya kurang memadai untuk administrasi dan dicampur dengan pergudangan.

Rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang dilakukan oleh Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903.

Setidaknya kantor NIS ini sudah beberapa kali berubah fungsinya, diantaranya adalah:
  1.  Setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. 
  2. Pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) 
  3. Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.
Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Sumur Pompa Air
Ada bangunan kecil di samping kanan setelah masuk dari pintu loket, disitu tertera tulisan sumur pompa air. Konon pompa air itu menyedot air dari sumur yang kedalamannya mencapai 1.000 meter. Kedalaman seperti itu, untuk mendapatkan air yang bagus, karena Semarang berada di tepi laut, sehingga air tanahnya kurang bagus. Keberadaan sumur air tersebut sangat diperlukan, mengingat pada saat itu, kebutuhan air untuk stasiun sangat besar. Ingat pada saat itu, lokomotif masih menggunakan mesin uap sebagai penggerak. Selain itu, sistem sirkulasi udara pada gedung NIS, menggunakan air yang ada dibawah tanah, dan dibantu dengan plafond yang tinggi dan jendela yang besar.
Bagian bawah dari Bangunan Lawang Sewu ini adalah basement. Digunakan untuk menampung air sebagai sirkulasi udara pada gedung. Iklim tropis dekat dengan laut, membuat arsitek Belanda berfikir keras. Selain dengan basement penuh air, diperkuat lagi dengan penggunaan plafond yang tinggi dan jendela besar, untuk memaksimalkan sirkulasi udara. 

Pada masa penjajahan jepang, ruangan basement ini sempat digunakan sebagai tempat tawanan dan ruang penyiksaan. Oleh karena itu, banyak orang yang percaya bahwa ruangan basement dari gedung Lawang Sewu ini adalah yang paling angker dibanding tempat lainnya.
Lokomotif C 23
Didepan bangunan Lawang Sewu terdapat lokomotif berwarna Hitam Merah lengkap dengan rel nya. Lokomotif tersebut bernomer seri C 23,  adalah lokomotif uap buatan pabrik Hartmann, Jerman. Lokomotif ini dimiliki oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. Lokomotif ini bergandar 0-6-0T, artinya memiliki tiga gandar penggerak (enam roda). Lokomotif ini memiliki dua silinder berdimensi 340 mm × 400 mm, diameter roda 1.050 mm, berat 25 ton, dan dapat melaju hingga 55 km/jam. Dahulu Lokomotif ini diberi nomor NIS 263

Lokomotif C 23 hanya diimpor satu unit dari pabrik Hartmann, Jerman. Mulai operasi tahun 1908, lokomotif ini didatangkan untuk menggantikan keberadaan trem kuda di Kota Solo. Dengan demikian keberadaan lokomotif uap sangat mengubah moda transportasi yang awalnya tradisional menjadi modern. Banyaknya penumpang yang mempergunakan kereta api mengakibatkan perekonomian Kota Solo terus berkembang dan meningkat. Meskipun lokomotif C 23 dan C 18 memiliki bentuk yang mirip, namun C 23 masih menggunakan uap basah (tidak memakai superheater). Lokomotif ini dapat menggunakan bahan bakar kayu jati maupun batu bara.



Dengan berubahnya fungsi awal dari gedung Lawang Sewu ini, banyak peninggalan interior yang telah hilang. Tak banyak barang yang tersisa disini. Salah satunya adalah panel kelistrikan yang tertempel di tembok ini. Sayangnya pelaku vandalisme juga merusak panel tersebut. Saat ini, panel tersebut  sudah tidak digunakan lagi.

Pada gedung A, terdapat bangunan yang kondisinya lebih berwarna dari pada gedung B. Menurut informasi dari pemandu wisata di Lawang Sewu, bahan bangunan pada gedung A murni impor dari eropa, sedangan bahan bangunan untuk gedung B, campuran dari lokal dan import.

Pada gedung A ini juga terdapat mini museum yang berisikan sejarah perkereta api-an di Indonesia, termasuk ada beberapa miniatur lokomotif uap jaman dahulu.  
Selain itu, pada gedung A ini dahulu kala juga terdapat ruang pesta dan ruang pertemuan yang digunakan oleh pejabat Belanda pada waktu itu. Di sini juga terdapat kaca patri yang didatangkan juga dari eropa. Kaca patri ini sangat besar, yang menggambarkan kekayaan alam Nusantara. Pada kaca patri tersebut menggambarkan kekayaan alam flora dan fauna Nusantara diangkut kereta dikumpulkan ke kota pelabuhan di pulau jawa untuk selanjutnya diperdagangkan di dunia.
Nona berbaju merah merupakan Dewi Fortuna atau Dewi Keberuntungan, sedangkan nona berbaju biru melambangkan Dewi Sri, atau Dewi Kemakmuran. Sedangkan roda bersayap menggambarkan kereta api. Pada kaca patri tersebut juga ada simbol kota dagang Batavia, Surabaya dan Semarang. Sedangkan pada bagian lain juga ada simbol kota dagang Belanda seperti Amstrerdam, Den Haag dan Rotterdam. Panel paling kanan menampilkan ratu ratu Belanda.






Saat menjelang malam hari, Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein depan Lawang Sewu menampakkan cahaya lampu. Juga beberapa spot dalam komplek bangunan Lawang Sewu diterangi cahaya dari lampu. Hal ini menambah keindahan Lawang Sewu dan para pelancong pun dapat menikmati Lawang Sewu dimalam hari.

Lawang Sewu buka setiap harinya dari pukul 07.00- 21.00, harga tiketnya pun sangat murah, hanya 10rb per orang. Jika ingin ditemani oleh pemandu, anda dapat meneggunakan jasa pemandu hanya dengan uang 30rb saja untuk 1 rombongan.

Salam Wisata Indonesia
Wisata lainnya:
  1. Telaga Sarangan, Wisata Andalan Magetan
  2.  Simpang Lima Semarang
  3. Kampung Sumber Alam Garut
  4. Wisata Offroad Cikole Lembang

tertarik untuk mengunjungi Lawang Sewu, silahkan cermati peta dibawah ini

0 Response to "Gedung Lawang Sewu, Sejarah Kereta Api Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel